Desa terpencil di kabupaten DEMAK yang bermimpi dikenal dunia luar melalui potensi alamnya dan prestasi warganya.
 

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Wafatnya Sayidina Ali Korban Kebiadaban Kaum Radikal

Illustrasi
DutaIslam.Com - Jragung - “Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

Itulah teriakan Abdur Rahman bin Muljam Al Murodi (Khawarij) ketika menebas tubuh mulia Sayiduna Ali bin Abi Thalib, -karamallahu wajhah- pada saat bangkit dari sujud shalat Subuh pada 19 Ramadhan 40 H itu.


yang sudah dilumuri racun mematikan seharga 1000 dinar. Tubuh Sayiduna Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) ruh sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah Shallahu 'Alaihi Wa Sallam menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam.

Ali dibunuh setelah dikafirkan. Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah. Ali dibunuh atas nama hukum Allah. Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khawarij, yang saat ini telah bermunculan generasi penerusnya.

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya:


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh khalifah Ali, akhirnya Ibnu Muljam divonis hukuman dg diqishas. Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya mencabut suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rasulullah, dan ayah dari Al-Hasan dan Al-Husein itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah.
Seorang ahli surga harus meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Allah.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern. Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat melakukan provokasi-provokasi atas nama jihad di jalan Allah, dengan cara membunuh, membantai,  memerangi sesama bahkan dg melakukan bom bunuh diri yang oleh mereka disebut istisyhadiyah.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki yang hafidz (hapal) Al Qur'an, zahid, rajin shalat,  rajin puasa dan mendapat julukan Al-Muqri’, dia jg sekaligus sebagai motivator orang lain untuk menghafalkan Al Qur'an.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri piramida itu. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyatakan:

“Abdur Rahman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur'an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.
Meskipun Ibnu Muljam hafal Alquran, berpenampilan regius,  fasih berbicara agama dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya.

Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, akibat kesesatannya yang disebabkan kedangkalannya dalam memahami ilmu agama . Afiliasinya kepada pahama Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit dan dangkal. Ibnu Muljam tergesa2 menetapkan klaim surga  kepada dirinya dan neraka kepada orang lain.

Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Allah.

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan saleh yag menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiai dan ulama.

Tanpilan luar mereka cukup religius bahkan tampak ada bekas sujud di dahi. Mereka gar membaca Al Quran, dan pandai berdalil dengan Al Qur'an. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits telah mewaspadakan kemunculan generasi Ibnu Muljam ini:



يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ ، وَلا صَلاتُكُمْ إِلَى صَلاتِهِمْ شَيْئًا ، وَلا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسَبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهُمْ ، لا تَجَاوَزُ صَلاتَهُمْ تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Quran dan mereka menyangka bahwa Al Quran itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Quran itu adalah (bencana) atas mereka, yakni mereka mengira Al Qur'an membenarkan mereka,  padahal mereka bertentangan. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah yang melesat dari sasaran buruannya. (HR. Muslim : 1068).

Kebodohan kepada ilmu agama dan perasaan paling benar sendiri mengakibatkan mereka jatuh kepada kesesatan merasa berjuang membela agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang merobohkan Islam dan kaum muslimin dari dalam

Waspadalah kepada gerakan generasi penerus Ibnu Muljam ini. Ingat , Khawarij akan terus muncul sampai Dajjal keluar.

Jangan sampai generasi kita terracuni oleh virus Ibnu Muljam gaya baru. Jauhi radikalisme dan ekstrimisme dalam beragama. Perangi terorisme yang dibungkus dengan kita jihad fi sabilillah. Mereka bukan mujahid tapi khawarij gaya baru. Sudah terlalu banyak korban akibat ulah mereka. Islam dan ajaran Islam menjadi tercoreng krn ulah mereka.

Islam itu agama Rohmatan Lil Alamin.

Read more

Surga dan Neraka Membuat Lupa Pengalaman Hidup di Dunia


Jragung - Karangawen - Demak -- Allah menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai senda gurau dan permainan belaka. Sementara kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang sebenarnya. Artinya, Allah mengkondisikan kita untuk memandang dunia dengan santai tidak terlalu serius. Karena di dunia ini tidak ada keadaan yang benar-benar bisa dikatakan bahagia atau sebaliknya sedih. Di dunia ini tidak ada keberhasilan hakiki maupun kegagalan sejati. Segala sesuatu di dunia ini bersifat fana alias sementara. Kadang seseorang bahagia kadang seseorang sedih. Kadang ia berhasil kadang ia gagal. Itulah dunia dengan segala tabiat sementaranya.
Sebaliknya dengan kehidupan dunia, kehidupan akhirat merupakan kehidupan sejati. Tidak ada orang berbahagia di akhirat untuk jangka waktu singkat saja. Dan tidak ada pula yang mengalami penderitaan sementara saja, kecuali Allah menghendaki selain itu.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)
Allah ta’aala menghendaki agar orang bertaqwa memandang kehidupan akhirat dengan penuh kesungguhan karena di sanalah kehidupan sejati akan dijalani manusia. Sedangkan terhadap dunia Allah ta’aala menghendaki orang bertaqwa agar berlaku proporsional saja dan tidak terlampau ngoyo dalam meraih keberhasilannya. Sebab kehidupan dunia ini Allah ta’aala gambarkan sebagai tempat dimana orang sekedar bermain-main dan bersenda-gurau.


Namun dalam kehidupan kita dewasa ini kebanyakan orang malah sangat serius bila menyangkut urusan kehidupan dunia. Mereka siap mengerahkan tenaga, fikiran, dana dan waktu all out untuk menggapai keberhasilan duniawinya. Sedangkan bila menyangkut urusan akhirat mereka hanya mengerahkan tenaga dan waktu sisa, fikiran sampingan serta dana receh. Jika hal ini terjadi kepada kaum kafir alias tidak beriman kita tentu bisa maklumi. Tapi di dalam zaman penuh fitnah ini tidak sedikit saudara muslim yang kita saksikan bertingkah dan berpacu merebut dunia laksana  kaum kafir. Allah memang menggambarkan bahwa kaum yang tidak beriman sangat peduli dan faham akan sisi material kehidupan dunia ini. Namun mereka lalai dan tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kehidupan akhirat.
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS ArRuum ayat 7)
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: ”Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari tidurnya”. Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di akhirat nanti manusia akan menyadari betapa menipunya pengalaman hidupnya sewaktu di dunia. Baik sewaktu di dunia ia  menikmati kesenangan maupun menjalani penderitaan. Kesenangan dunia sungguh menipu. Penderitaan duniapun menipu.
Saat manusia berada di alam akhirat barulah ia akan menyadari betapa sejatinya kehidupan di sana. Kesenangannya hakiki dan penderitaannya sejati. Surga bukanlah khayalan dan sekedar dongeng orang-orang tua di masa lalu. Begitu pula dengan neraka, ia bukan suatu mitos atau sekedar cerita-ceirta orang dahulu kala. Surga dan neraka adalah perkara hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan dengan deskripsi yang sangat kontras dan ekstrim mengenai betapa berbedanya tabiat pengalaman hidup di dunia yang menipu dengan kehidupan sejati akhirat. Perhatikanlah baik-baik hadits di bawah ini:

“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)

Mengapa orang pertama ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kebaikan serta merasakan suatu kenikmatan, padahal ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah paksa dia merasakanderita sejati neraka –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala kenikmatan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Sebaliknya, mengapa orang kedua ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kesulitan atau merasakan suatu kesengsaraan, padahal ia orang yang paling susah hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah izinkan dia merasakan kesenangan hakiki surga –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala penderitaan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Subhaanallah wa laa haula wa laa quwwata illa billah…!!!

Saudaraku, sungguh kehidupan dunia ini sangat tidak pantas kita jadikan ajang perebutan dan perlombaan. Sebab menang di dunia pada hakikatnya hanyalah menang yang menipu. Demikian pula sebaliknya, kalah di dunia hanyalah kalah yang menipu. Saat manusia diperlihatkan surga dan neraka di akhirat kelak, sadarlah ia betapa naifnya perlombaan merebut keberhasilan dunia ini dibandingkan dengan kenikmatan hakiki dan abadi surga yang jauh labih patut ia kejar dan usahakan semaksimal mungkin.  Sadarlah ia betapa lugunya ia saat di dunia berusaha mengelak dari segala derita dan kesusahan dunia jika dibandingkan dengan derita sejati dan lestari neraka yang jauh lebih pantas ia berusaha mengelak dan menjauh darinya.
Pantas bila Allah gambarkan bahwa saat sudah dihadapkan dengan azab neraka orang-orang kafir bakal berharap mereka dapat menebus diri mereka dengan sebanyak apapun yang diperlukan, andai mereka sanggup. Tentunya pada saat itu mereka tidak sanggup dan tidak berdaya.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia puncak cita-cita kami dan batas pengetahuan kami. Amin ya Rabb.-
Sumber : Era Muslim
Read more

Yang merasa banyak Dosanya





“Wahai Anak Adam, seandainya dosamu membumbung setinggi langit lalu engkau memohon ampunan kepada-Ku, pasti Aku ampuni semuanya. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan seluas bumi, lalu menemui-Ku dan tidak menyekutukan-Ku, pasti Aku mendatangimu dengan ampunan seluas bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

 Jragung - Karangawen - Demak --- Jangan mengira orang-orang beriman bebas dari ujian dan cobaan hidup.  Setiap orang beriman pasti diuji keimanannya. Diantara orang beriman ada yang tergelincir karena tak kuat menahan godaan dan cobaan hidup. Ingat, Syaitan tak akan pernah berhenti menggoda manusia, karena syaitan adalah musuh manusia yang paling nyata.
 Jangankan orang biasa, Adam dan Hawa pun pernah terusir dari Surga setelah terbujuk rayuan Syaitan dengan memakan buah khuldi. Kemudian Adam as memohon ampun selama 40 tahun. Seperti inilah doanya Nabi Adam as dengan penuh harap.
“Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Doa Nabi Adam dan Hawa ini mengandung banyak pelajaran, bahwa seseorang yang telah melakukan dosa, harus menyadari bahwa dosa itu adalah karena perbuatan dan kesalahanya sendiri, bukan kesalahan orang atau pihak lain. Nabi Adam tidak menyalahkan Iblis yang telah menggodanya, tapi dia menyalahkan dirinya sendiri.
Selain itu, doa Nabi Adam dan Hawa ini juga mengajarkan kepada kita untuk tidak berputus asa mengharap rahmat dan ampunan Allah. Iblis berputus asa dari ampunan Allah, hingga dia tidak mau lagi memohon ampunan dari Allah atas kesalahannya. Itulah bedanya iblis dengan Nabi Adam.
Harta-Tahta-Wanita



Ada ungkapan yang mengatakan, harta, tahta dan wanita adalah godaan  manusia yang membuat orang-orang beriman futur dan tergelincir. Terjerumus dosa besar, baik yang ia sadari maupun tak disadari. Ketika orang beriman tergelincir, diantara mereka ada yang merasa hidupnya hancur, putus asa, dan dijauhkan dari masyarakat.
Belum lagi, kaum agamawan yang lebih memunculkan ayat ancaman dan hukuman keras, ketimbang memberi harapan dan membesarkan jiwa bagi orang-orang yang bertobat. Kaum agamawan acapkali mengucilkan kaum pendosa, ketimbang merangkul dan mendakwahkan kaum pendosa untuk kembali pada fitrahnya.
Itulah yang kisahkan Rasulullah Saw, seperti yang diriwayatkan Abu Sai Al-Khudri. “Dahulu, diantara Bani Israil terdapat seorang pria yang telah membunuh 99 manusia. Suatu hari, dia keluar untuk bertobat. Orang itu bertanya kepada seorang pendeta, “Apakah dosa saya terampuni jika bertobat?” Pendeta itu menjawab, “Tidak mungkin”. Orang itu lalu membunuh pendeta tersebut hingga genap menjadi 100 orang yang ia bunuh.
 Pembunuh itu tadi kemudian terus berusaha mencari harapan dengan bertanya tentang kemungkinan dosanya terampuni. Kemudian bertemulah orang bijak seraya berkata kepadanya,”Jika ingin bertobat, datangilah negeri ini dan itu.” Dia pun menurutinya. Namun, di tengah perjalanan, ia meninggal. Malaikat rahman dan malaikat azab berdebat, memperebutkan lelaki yang ingin bertobat itu.
Kemudian Allah mewahyukan  kepada negeri yang ditujunya seraya memerintahkan kepada kedua malaikat tersebut. “Ukurlah jarak antara dua negeri tersebut.” Didapati ternyata orang tersebut lebih dekat satu depa dengan negeri yang ditujunya. Hingga dosanya pun terampuni.
Dari kisah ini, hendaknya menjadi ibrah atau pelajaran. Orang yang tergelincir dan ingin bertobat itu bukan malah dijauhi, apalagi ditakuti-takuti. Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang mensucikan dirinya. Ingatlah firman Allah yang berbunyi:
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
Suatu ketika Abu Musa Al-Asy’ari menghukum seorang yang minum khamar (miras) dengan menghitamkan wajahnyam mencukur rambutnya, dan memerintahkan agar orang-orang menjauhinya dan tidak berinteraksi dengannya.
Mendengar hal itu, Umar bin Khaththab ra berang  dan mengancam Abu Musa. Apabila orang yang dihukum tersebut tidak dikembalikan hak-haknya untuk bergaul dengan sesama muslim yang lain, maka Umar akan menghitamkan wajah Abu Musa dan mencukur rambutnya. Akhirnya, orang tersebut kembali bisa berinteraksi dengan masyarakat.
Sesungguhnya, tobatnya orang-orang beriman yang tergelincir bisa membangkitkan rasa percaya diri dan menghapus dosanya. Seseorang pun kembali memperbarui keimanan dan keislamannya. Maka, dakwahilah mereka, besarkan jiwanya, dan berilah harapan yang besar bahwa Allah Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.
Kasih Sayang Allah



Di keheningan malam, seorang pendosa bermunajat dan memohon ampun kepada Tuhan-nya dengan penuh harap dosa-dosanya terampuni, “Ya Rabb, meski dosaku menumpuk, tapi kusadar maafmu begitu luas. Jika yang boleh berharap kepada-Mu hanya orang-orang baik, lalu kepada siapa para pendosa mengharap dan berdoa? Tiada jalan bagiku, kecuali berharap. Meminta maaf-Mu dan aku berserah diri.”
Dalam buku berjudul “Tuntunan Tobat” yang ditulis oleh Muhammad Nabil Dhaif (Penerbit Istanbul), Allah melarang para hamba-Nya berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya, karena pintu tobat selalu terbuka, kapan saja. Allah selalu menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya. Dia tidak menginginkan kehinaan dan kezaliman menimpa hamba-Nya.
Allah pun menangguhkan siksa para hamba agar mereka mau bertobat. Jika mereka bertobat, maka Allah akan menerimanya dengan memberi ampunan, meski dosa-dosanya membumbung setinggi langit dan membentang seluas bumi.
Dalam hadits qudsi, dari Anas bin Malik, dia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Allah berfirman, “Wahai Anak Adam, sungguh jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti akan Aku ampuni dosa yang telah engkau perbuat dan Aku tidak memedulikannya.
 “Wahai Anak Adam, seandainya dosamu membumbung setinggi langit lalu engkau memohon ampunan kepada-Ku, pasti Aku ampuni semuanya.”
 “Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan seluas bumi, lalu menemui-Ku dan tidak menyekutukan-Ku, pasti Aku mendatangimu dengan ampunan seluas bumi pula.” (HR. Tirmidzi).
Allah bahkan lebih mendahulukan kasih sayang dan ampunan-Nya daripada azab-Nya. Itulah sebabnya, Allah memerintahkan agar para pendakwah memberi kabar gembira pada orang yang tobat, sebagaimana firman Allah:
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang pedih.” (QS. Al Hijr: 49-50).


Diantara bukti kasih sayang Allah, Dia membiarkan hamba-Nya melakukan dosa dan kesalahan, sedang Dia melihat dan mengetahuinya. Allah kemudian memberi kesempatan hambanya untuk bertobat, bahkan tetap memberi limpahan rahmat nikmant dan rahmat.
Berbeda dengan alam yang menyaksikan perbuatan maksiat manusia. Langit dan bumi memohon pada Rabb-Nya agar segera menurunkan bencana. Tetapi Allah menjawab, “Biarkan Aku sendiri yang mengurus hamba-hamba-Ku. Andai kalian yang menciptakan mereka, pastilah kalian akan menyayangi mereka.”
Subhanallah, betapa sayangnya Allah, meski Dia mengetahui apa yang dilakukan hamba-hambanya. Diantara tanda sayangnya Allah adalah satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahalanya. Sedangkan satu keburukan hanya dicatat satu keburukan saja. 

Sumber : Islam Pos
Read more

Jika saat itu Presidennya Bukan Gus Dur, Apa jadinya Indonesia ??


Jragung - Karangawen - Demak ~ Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.

Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang. Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.

“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.

“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur.

“Kok bisa Gus?”

“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.” kata Gus Dur.

Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi, kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain pangendikan Gus Dur.

Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus, terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”

“Ya saya, hehehe…” kata Gus Dur datar.

Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang memang suka guyon.

“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi presidan walau sebentar hehehe...” kata Gus Dur mantab.

“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai.

“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU,” kata Gus Dur masih datar seperti guyon.

Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang presiden RI.

Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia.”

Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.”

Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langakah saya.”

Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung dengan tamsil Gus Dur.

“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan.”

Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega. Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”

Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.”

“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”

Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu.”

“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu.” Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir! saya mau lewat.”

Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden.”

“Poro Kiai ingkang kinormatan.” kata Gus Dur kemudian. “Kita yang akan jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.”

“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama,” lanjut Gus Dur.

“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian.

“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri.”

Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”

Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI bagi NU adalah Harga Mati!”



“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” tutup Gus Dur.

Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur. Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga kami dengan seribu tanda tanya.

Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi.

Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri.

Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah… safari ke luar ternyata Gus Dur benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI.

Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara.

Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq repot!”

Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi Malarangeng, mantan Menpora. Tentu warga NU gak akan lupa sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan.

Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki.

Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll. mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah kebakaran rumah besar Indonesia.

Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh. Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh gelar “Pahlawan"

Sumber: Nur Cholis Gusdur Files
Read more

Sebenarnya Apa sih yang kita cari???


Jragung - Karangawen - Demak
Sebuah renungan agar kita lebih bersyukur dengan apa yang talah kita raih dalam kehidupan ini..

Kita hidup di gunung merindukan pantai.
Kita hidup di pantai merindukan gunung.

Kalau kemarau kita tanya, kapan hujan?
Di musim hujan kita tanya, kapan kemarau?

Diam di rumah inginnya pergi.
Setelah pergi inginnya ke rumah.

Waktu tenang, ingin cari keramaian.
Waktu ramai, ingin cari ketenangan.

Ketika masih bujang mengeluh ingin menikah.
Sudah berkeluarga, mengeluh belum punya anak.

Setelah punya anak mengeluhkan biaya hidup dan pendidikan.

Ternyata "SESUATU ITU" tampak indah karena belum kita miliki....

Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki.

Jadilah pribadi yang "SELALU BERSYUKUR" dengan rahmat yang sudah kita miliki.

Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?
Menutupi telapak tangan saja sulit.

Tapi kalau daun kecil ini nempel di mata kita, maka tertutuplah "BUMI" dengan daun.

Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk, maka kita akan melihat keburukan dimana-mana.
Bumi inipun akan tampak buruk.

Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil.
Jangan menutupi hati kita, dengan sebuah pikiran buruk, walau cuma seujung kuku.

Syukuri apa yang sudah kita miliki, sebagai modal untuk memuliakannya.
 Karena hidup adalah Waktu yang dipinjamkan, dan harta adalah amanah yang dipercayakan. Yang nantinya semua itu akan dipintai pertanggung jawaban.

Bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki. Bersyukurlah atas keluarga yang kita miliki. Bersyukurlah atas pekerjaan yang kiti miliki. Bersyukur dan selalu bersyukur di dalam segala hal.

Bersegeralah berlomba dalam kebaikan di mulai dari sekarang.
Sumber : Kabar Makkah
Read more

Nasehat Ayah Kepada Anak Perempuanya



Jragung - Karangawen - Demak
“Anakku, saat kau jatuh cinta, kau tetap tak boleh pacaran. Biarkan kau tetap terbungkus rapi dan kulit lembutmu hanya boleh disentuh oleh suamimu. Ketahuilah bila kau jatuh cinta dengan seseorang, belum tentu itu jodohmu. Maka tetap mintalah kepada yang Maha Tahu untuk diberi jodoh terbaik bagimu.

Ketahuilah, wanita yang hebat itu yang menyayangi anak-anaknya dan itu dibuktikan dengan mencarikan ayah yg tepat buat anaknya. Ayahmu ini berharap, kau termasuk di dalamnya. Anakku, apa yg kau harapkan belum tentu kau dapatkan. Ingatlah rencana Allah adalah rencana terbaik dibandingkan rencana terbaik seluruh penduduk bumi sekalipun.

Agar kau diberi “pangeran” terbaik, tugasmu hanya memantaskan diri dan minta kepada Allah. Semakin kau sering mengadu dan dekat kepada Allah maka Dia akan mengirimkan “pangeran” terbaik untukmu. Jangan ragu, Dialah yang Maha Tahu jodoh terbaikmu. Bila sebelum Subuh kau selalu menangis kepada-Nya, tak mungkin Dia tega memberi “pangeran” yang tak bermutu kepadamu. Walau kau jatuh cinta, jangan serahkan hatimu kepada lelaki itu, karena boleh jadi menurut Allah dia bukan “pangeranmu”.

Tetaplah serahkan hatimu kepada Allah dan setelah Allah kirim “pangeran” kepadamu, baru serahkan hatimu kepada “pangeran” itu. Air matamu di hadapan Allah dan kesabaranmulah yang membuat Allah mengirimkan “pangeran” terbaik untukmu.

Bukti bahwa kau wanita hebat, kau tetap lebih sering mengingat Allah dibandingkan lelaki yang kau jatuh cintai. Bila Allah yang dihatimu, Dia akan kirimkan “pangeran” original kepadamu. Namun bila kau menjauh, Allah akan kirim pangeran KW-3 bahkan mungkin KW-10 kepadamu. Dan itu akan menyiksa hidupmu dan berkuranglah rasa banggaku kepadamu.

Anakku, lelaki yang cocok buat anak-anakmu adalah yang
berani datang menemui ayahmu untuk melamarmu dan bukan yang pandai memainkan perasaanmu. Percuma bila ada lelaki yang kau cintai tetapi dia tak punya nyali bertemu dengan ayahmu.

Saat ini ayahmu hanya bisa berdoa agar Allah mengirimkan “pangeran” terbaik untukmu. Dan semoga yang dikirim oleh Allah adalah lelaki yang telah membuat kau jatuh cinta.

Terakhir, Ingatlah selalu kebiasaan di keluarga kita: Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Semoga kau menjadi kekasih Allah sehingga kau dikirimi kekasih terbaik menurut Allah dan juga menurutmu. Anakku, bapak percaya padamu dan sepenuh hati mencintaimu…”


Sumber : kabar makkah
Read more

Setapak Perjalanan



Jragung - Karangawen - Demak
Di salah satu sudut ruang rumah, seorang perempuan muda mengelus perutnya yang semakin membesar. Hari ini, tepat empat puluh hari yang ketiga usia sang jabang bayi.”Jadilah anak yang shalih ya, sayang.” ujar sang ibu. Sementara, malaikat mengantarkan ruh memenuhi tugas kemanusiaannya. ”Telah tetap empat perkara atasmu, wahai manusia!” malaikat menyampaikan sabda dari Tuhan yang Maha Pencipta.
”Ya Rabb, kepada siapa Engkau akan pertemukan aku? Akankah Engkau jerumuskan hamba atau Engkau beri nikmat dari sisiMu? ” Bisik sesosok pemuda dalam do’a panjangnya. Hari ini, untuk kesekian kalinya dia menimbang. Usianya telah genap dua puluh tiga tahun. Sepekan lalu dia pulang ke rumah orang tua untuk memohon restu. Tekadnya telah bulat untuk menggenapkan agamanya. Sang ibu telah memberi pesan yang membuatnya semakin yakin dengan pilihannya itu. ”Nak, ingatlah. Dua puluh tiga tahun yang lalu, kamu ada dalam kandunganku. Tuhanmu telah memutuskan empat perkara dalam hidupmu yang tak sanggup untuk engkau elakkan. Maka bersabarlah, dan firasatilah sabda Tuhanmu itu dengan taqarrub”, pesan Ibu.
Kini, pemuda itu masih saja bertanya. ”Tuhan, tunjukkanlah. Siapa yang engkau tetapkan untuk mendampingiku? Berilah hamba isyaratMu!”
Diatas sana, Tuhan pemuda itu tersenyum. ”Wahai para malaikat! Lihatlah pemuda itu! Berilah isyarat-Ku kepadanya. Aku telah melihat kesungguhannya dalam mentaatiKu”.
Kabar itu pun datang. Dalam satu malam yang tenang. Ketika selimut mengistirahatkan makhluk Tuhan sejagad raya, malaikat pembawa pesan Tuhan, mendatangi salah satu rumah. ”Iya, itu pemuda yang ku cari”. Di temuilah pemuda itu dalam mimpi. ”Benarkah dia yang Engkau kirim ya Tuhan? Jikalau benar, berilah hamba kekuatan dan kemudahan untuk menerimanya.” do’a sang pemuda.
Ini adalah pertemuannya yang pertama. Tak tentu rasanya. Gelisah, khawatir, takut bercampur tak karuan. Sepanjang jalan, tak henti-hentinya dia terus berbisik kepada Tuhannya. Dia tersenyum. Menunduk. Tak terasa butiran air menetes dari sudut matanya. ”Akhirnya Engkau penuhi janjiMu, Tuhan.”
“Apakah Engkau bahagia sekarang?” tiba-tiba saja bisikan itu hadir. Padahal baru sepagi tadi pemuda itu bertemu dengan calon belahan jiwanya.”Apakah ini hanya bisikan atau ada isyarat lain? “ pemuda itu menimbang. Bisikan itu kembali hadir. Dan kali ini lebih tegas, “Maukah aku tunjukkan kebahagiaan yang lebih besar dan lebih agung? Apa yang kamu rasakan sekarang, tak lebih dari seujung jari kebahagiaan yang aku tawarkan.” Pemuda itu semakin limbung. Ia bertanya-tanya, kebahagian macam mana lagi? Bukankah yang ia rasakan sekarang telah ia tunggu sejak lama? Rasa itu telah membuncah. Bahkan energinya mampu menghancurluluhkan gunung yang berdiri angkuh diseberang sana.
Kali ini, bisikan itu hadir dalam wujud yang lebih nyata. Ia adalah seorang yang berpakaian bersih. Wajahnya menampakkan keteguhan bercampur dengan kelembutan. Ia menyapa pemuda itu. Kali ini lebih lembut dan bersahabat. Mereka berdua duduk berhadapan saling menatap. “Wahai sahabat, aku melihat engkau masih saja bertanya-tanya. Tak tahukah kau apa itu kebahagiaan yang lebih besar dan agung ? Dengarkanlah baik-baik.” Orang itu lantas tersenyum.” Baiklah, jika kamu tak bisa memahaminya. Aku maklum. Kelak, kamu akan mengetahuinya.” Orang itu pun meninggalkan pemuda itu sendiri. Terdengar sayup-sayup adzan asar berkumandang. Ia pun bergegas mengambil wudhu.
Lautan manusia memenuhi tanah lapang ini. Tak satupun yang ia kenal. Semua seolah sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia juga bingung. Mengapa ada sebanyak ini manusia. Ada pertemuan apa? Siapakah yang mengundang, hingga tak satu pun manusia yang tertinggal?
“Hai, apa kabar pemuda?” ia menoleh mencari-cari sumber suara. Sepertinya ada yang menyapanya barusan. Tiba-tiba saja, ditepuklah bahu sebelah kanannya. Ternyata orang yang pernah menemuinya dulu.
“Ah, kamu rupanya. Aku kira siapa.” Sapa sang pemuda. “Dimanakah ini?” Tanya sang pemuda. “oh, hari ini ada kaitannya dengan apa yang pernah ku sampaikan dulu.”jawab orang itu.
“Ooohh” balas sang pemuda.
Ia sebenarnya masih bingung. Apa maksud perkataan orang asing ini. Datang dan pergi semaunya. Memperkenalkan diri saja tidak. Tapi ia berani bertanya ini itu seolah aku ini orang dikenalnya. Setahuku, cuma sekali dulu itu aku bertemu dengannya. Semenjak itu tak pernah lagi.
Ia memegang tangan sang pemuda dan membawanya ke suatu tempat. Cengkeraman tangannya begitu kuat. Dibawanya sang pemuda itu berlari, menerobos kerumunan orang. Hingga sampai disebuah taman yang indah. Ada aliran air dan pohon yang tinggi dan rindang. Disini, tak lagi banyak kerumunan orang seperti di tanah lapang itu. Setiap kali melewati orang, mereka akan menyapa dengan salam dan tersenyum.
”Ah, betapa teduh dan damainya” gumam sang pemuda. Ia merasa lebih tenang. Tak seperti sebelumnya yang kebingungan. Tapi rasa ingin tahunya belumlah hilang. Ia masih merasa asing dengan tempat ini.
“Sebentar lagi akan datang waktunya.” Kata orang itu.
“Apa maksudmu?” tanya sang pemuda.
“Saat-saat pertemuan agung. Tetaplah disini bersamaku. Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya”, jawab orang itu.
Iring-iringan orang berbaju serba putih bersih datang dari ujung taman. Di tengah rombongan itu ada satu orang yang terlihat berbeda. Aku masih tak begitu jelas melihatnya. Ia menyalami dan merangkul setiap orang yang ia lewati.
“Tahukah kamu siapa dia?” tanya orang itu kepadaku. Aku menggelengkan kepala.”Memang siapa dia?” tanyaku balik.
“Dia adalah manusia paling mulia dibumi sejak manusia diciptakan. Dialah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.” jawab orang itu sambil tersenyum kepadaku.
“Benarkah dia orangnya? Kamu tak berbohong kepadaku, kan? Tak mungkin aku menemuinya. Aku pasti bermimpi.” Pemuda itu masih saja tak percaya dengan penglihatannya.
Rombongan itu sampai di depan sang pemuda. Manusia agung itu berhenti dan mendekat kepada sang pemuda.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai pemuda yang ditunggu-tunggu. Apakah engkau adalah pemuda yang diajak dia?” tanya manusia agung itu sambil menunjuk orang yang ada disebelum pemuda itu.
“benar.”Jawab yang pemuda.
Rasulullah tersenyum dan memegang pundak sang pemuda.
“Apakah engkau benar-benar Rasulullah saw?” tanya sang pemuda
“Ya. Aku adalah Muhammad saw. Nabi dan Rasul kalian.”Jawab manusia agung itu.
“Bagaimana aku bisa yakin bahwa engkau adalah Rasulullah saw. Tunjukkan buktinya padaku?” tanya sang pemuda yang masih tak yakin.
“lihatlah tanda kenabianku” jawab Rasulullah saw sambil menunjukkan bagian tengkuknya.
Aku kemudian memandanginya lekat-lekat. Dari ujung rambut hingga kakinya. Dari semua buku yang pernah aku baca tentang sifat dan ciri-ciri fisik. Semuanya memang ada pada diri manusia yang agung ini.
Tak berselang lama,datanglah orang yang lebih aku kenal. Dia adalah ibuku. Aku cium tangannya dan mengucapkan salam.
“Anakku, dia adalah Rasulullah saw. Tak perlulah kamu ragu kepadanya. Bukankah ibu telah menceritakan kepadamu sejak dalam kandungan? Setiap menjelang tidur tak lupa pula aku menceritakan kisah hidupnya kepadamu. Engkau pun memiliki banyak buku yang bercerita tentangnya. Jadi, apalagi yang masih kau ragukan? Ibunya berkata.
“Bukan aku meragukannya, ibu. Aku hanya tak yakin bahwa aku telah berada dihadapannya sekarang.” Kata sang pemuda.
“Wahai pemuda, tahukah kamu bahwa sang perindu akan bertemu dengan yang dirindukannya? Jika kamu telah beriman dengan kerasulanku yang ghaib bagimu dan bagi umat yang hidup setelah kematianku. Maka perjumpaan hari ini adalah kepastian yang tak perlu kau ragukan lagi.” Sabda Rasulullah saw.
“Sebentar lagi, kita semua akan menjadi saksi akan kebenaran kitab suci tentang perjumpaan hari ini. Inilah salah satu janji Tuhan kepada kita bahwa Ia akan bertemu dengan kita semua tanpa hijab. Kita akan benar-benar bertemu denganNya. Kita akan melihat wajahNya, senyumNya, dan kita akan mendengar perkataanNya secara langsung.” Sabda Rasulullah saw selanjutnya.
Cahaya terang kian terpancar disekeliling taman ini. Semakin lama semakin terang dan bercahaya. Aku belum pernah menyaksikan cahaya yang seterang ini.
Dan… Bersujudlah semua manusia yang hadir pada hari ini.
Kebenaran itu telah ditunjukkan sekarang.
Aku tak mampu mengungkap rasa yang bergelora di dalam lubuk jiwa. Hanya kalimat tasbih yang mampu kuucapkan.
Aku beriman…!!
Sumber : Fimadani
Read more